Waktu
yang merubah semua ini, waktu yang membuatku terlarut akan kesendirian, waktu
yang membuatku buta akan keadaan. Namun bukan waktu yang harus disalahkan. Aku
bersandar kepada sesuatu yang tidak bisa disalahkan. Kesuksesan yang memberikan
ketakutan. Aku tahu jika kebahagiaan yang abadi adalah subjektif dari setiap
orang. Kebahagiaan yang abadi bukan seperti ini, bukan seperti itu, namun
begini dan seterusnya.
Kuperhatikan
setiap orang yang ada di sekelilingku, mereka berusaha dengan sebaik- baiknya melakukan
banyak hal yang berhasil membuat orang lain ‘shine’ tapi sebenarnya mereka
tidak menyukainya, dan berharap ‘shine’ itu terjadi pada dirinya. Jangan
salahkan mereka, akupun pernah berada dalam posisi itu. Melihat orang
disekeliling kita telah mampu ‘shine’ dengan cara mereka. Simple? Tidak semudah
itu melewati keadaan ini. Tersenyum dan takut. Hal itu yang dirasakan.
Perlahan
aku coba melihat sisi lain dari lingkunganku. Ada banyak pilihan yang mereka
ambil. Sebagian dari mereka memilih untuk menikmati dengan menjaga kebersamaan
dengan teman dan sahabat, sebagian lainnya berfokus mengejar cita – cita dan
impian apapun yang terjadi hingga merahasiakan proses dari yang lainnya.
Obsesikah? Entah... aku bukan bagian dari keduanya, aku hanya pengamat yang
belum pernah melakukan apapun.
Saat
awal aku memasuki dunia ini aku memiliki impian besar dan tanpa membayangkan
jika akan bertemu dengan orang – orang hebat disini. Tapi entah apa yang
membuat aku lebih nyaman saat berada di sekolah dulu. Alasanku mungkin karena
disana kita merasa tidak memiliki tujuan untuk improve diri kita menjadi lebih
dari yang lain. Walaupun aku yakin jika masa ini memang harus dilewati.
Bersabarlah.
Ribuan
motivasi sangat dibutuhkan di usiaku sekarang (19-25). Motivasi yang ‘katanya’
mampu memberikan stimulus mengapai mimpi. Konsep tergambar, doa, dan setiap
hari harus ada target yang tercapai. Akupun demikian, walaupun terkadang kesal
dengan keadaan ini, karena meresahkan ketika tidak mendapatkan hal yang sama
dengan orang lain namun usaha yang dilakukan sama. That’s why I’m tired to
follow this games.
Mengapa
aku beralih untuk mengikuti arah jalanku sendiri, karena aku merasa terbebani
dengan jalan yang mereka kerjakan. Aku menjalankan tidak sepenuh hati. Passion
ku bukan menjadi seorang peneliti, atau yang sejenis pemikir lainnya. Sejauh
ini aku mengikuti tipe pengajaran dan tipe pendidikan di negeriku tercinta,
membentuk manusia yang demikian. Siapa yang akan berdalih jika kemajuan
Indonesia dalam bidang pendidikan melambat? Tidak ada.
Jika
saja aku lahir terlebih dulu dibandingkan nenek moyangku, apakah aku memiliki
pemikiran demikian? Kebersamaan, keserasihan, kenyamanan, semua berganti
menjadi kompetisi. Kompetisi dengan wajah kebersamaan. Bukan masalah jika hal
ini terjadi, namun masalah bagi kebahagiaan masing – masing, sejauh ini aku
telah salah dalam melangkah.
Kesalahan
jika aku melakukan semua untuk kesuksesan dan kejayaan. Bukan munafik tapi
tanyakan kepada diri masing – masing, jika ini yang harus digenggam di tangan
untuk menggapai impian lainnya. Salah satu temanku pernah mengatakan “Aku ingin
memberikan makan orang miskin yang ada di Indonesia setelah aku sukses nanti”,
“Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dengan mengajak mereka menunaikan
ibadah Haji” dan masih banyak impian lainnya. Sudah jelas jika tujuan utama
adalah menjadi ‘kaya’.
Sejujurnya
tidak perlu menjadi kaya untuk mendapatkan semua itu, cukup dengan bahagia dan
ikhlas. Kunci itu hanya kata sederhana namun maknanya luarbiasa. Luarbiasa
sulit untuk di terapkan, dibayangkan, dilakukan, dan didapatkan. Alasan
kebahagiaan bukan datang dari orang lain tapi dari diri sendiri. Keyakinan akan
cinta Allah. Cinta Allah kepada hamba-Nya tidak akan terbatas apapun.
Memaknai
hidup tidak perlu sesingkat dan sedangkal itu, banyak cara untuk menggapai
mimpi. Jika terus berbagi dan membuat orang lain tersenyum itu kunci cinta
Allah kepada hamba-Nya. Sedih jika ‘orang sukses’ itu tidak menyadari jika
dirinya tidak bahagia. Mengapa tersenyum untuk sesuatu yang tidak membuat diri kita
merasa damai.Berikan kebahagiaan itu kepada diri kita. Ikuti apa yang diri ini
ingin lakukan. Hal sederhana seperti, menulis cerita konyol, atau sekadar
bersenda gurau dengan teman, memberikan motivasi kepada adik adik di pedalaman
dan membuat mereka tersenyum hal baik yang membuat hati kita damai. Hal itu
akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan menjadi bonus dari kebahagiaan itu.
Kuncinya adalah Succes is not key to happiness, but happiness is key to
success.
Membuka
mata untuk dunia yang Allah titipkan kepada kita, tidak memandang sebelah mata
orang yang ada di sekeliling kita, merangkul semua orang yang membutuhkan kita,
berikan senyuman untuk setiap orang yang mendapatkan impiannya, berbahagialah
dengan cara yang sederhana J Best wish for us J
By Murni (mahasiswi biasa yang belum
menjadi siapa – siapa) ^^
“Jangan membuat diri kita merasa terbebani dengan ambisi kita” –Diah Rustania (2015)-
Iki diah sng comment... keren mur... tenan... ora geroh
ReplyDeleteIki diah sng comment... keren mur... tenan... ora geroh
ReplyDelete