About Me

Tuesday, December 15, 2015

PERBEDAAN YANG MENAKUTKAN BAGIKU


Waktu yang merubah semua ini, waktu yang membuatku terlarut akan kesendirian, waktu yang membuatku buta akan keadaan. Namun bukan waktu yang harus disalahkan. Aku bersandar kepada sesuatu yang tidak bisa disalahkan. Kesuksesan yang memberikan ketakutan. Aku tahu jika kebahagiaan yang abadi adalah subjektif dari setiap orang. Kebahagiaan yang abadi bukan seperti ini, bukan seperti itu, namun begini dan seterusnya.

Kuperhatikan setiap orang yang ada di sekelilingku, mereka berusaha dengan sebaik- baiknya melakukan banyak hal yang berhasil membuat orang lain ‘shine’ tapi sebenarnya mereka tidak menyukainya, dan berharap ‘shine’ itu terjadi pada dirinya. Jangan salahkan mereka, akupun pernah berada dalam posisi itu. Melihat orang disekeliling kita telah mampu ‘shine’ dengan cara mereka. Simple? Tidak semudah itu melewati keadaan ini. Tersenyum dan takut. Hal itu yang dirasakan.

Perlahan aku coba melihat sisi lain dari lingkunganku. Ada banyak pilihan yang mereka ambil. Sebagian dari mereka memilih untuk menikmati dengan menjaga kebersamaan dengan teman dan sahabat, sebagian lainnya berfokus mengejar cita – cita dan impian apapun yang terjadi hingga merahasiakan proses dari yang lainnya. Obsesikah? Entah... aku bukan bagian dari keduanya, aku hanya pengamat yang belum pernah melakukan apapun.

Saat awal aku memasuki dunia ini aku memiliki impian besar dan tanpa membayangkan jika akan bertemu dengan orang – orang hebat disini. Tapi entah apa yang membuat aku lebih nyaman saat berada di sekolah dulu. Alasanku mungkin karena disana kita merasa tidak memiliki tujuan untuk improve diri kita menjadi lebih dari yang lain. Walaupun aku yakin jika masa ini memang harus dilewati. Bersabarlah.

Ribuan motivasi sangat dibutuhkan di usiaku sekarang (19-25). Motivasi yang ‘katanya’ mampu memberikan stimulus mengapai mimpi. Konsep tergambar, doa, dan setiap hari harus ada target yang tercapai. Akupun demikian, walaupun terkadang kesal dengan keadaan ini, karena meresahkan ketika tidak mendapatkan hal yang sama dengan orang lain namun usaha yang dilakukan sama. That’s why I’m tired to follow this games.

Mengapa aku beralih untuk mengikuti arah jalanku sendiri, karena aku merasa terbebani dengan jalan yang mereka kerjakan. Aku menjalankan tidak sepenuh hati. Passion ku bukan menjadi seorang peneliti, atau yang sejenis pemikir lainnya. Sejauh ini aku mengikuti tipe pengajaran dan tipe pendidikan di negeriku tercinta, membentuk manusia yang demikian. Siapa yang akan berdalih jika kemajuan Indonesia dalam bidang pendidikan melambat? Tidak ada.

Jika saja aku lahir terlebih dulu dibandingkan nenek moyangku, apakah aku memiliki pemikiran demikian? Kebersamaan, keserasihan, kenyamanan, semua berganti menjadi kompetisi. Kompetisi dengan wajah kebersamaan. Bukan masalah jika hal ini terjadi, namun masalah bagi kebahagiaan masing – masing, sejauh ini aku telah salah dalam melangkah.

Kesalahan jika aku melakukan semua untuk kesuksesan dan kejayaan. Bukan munafik tapi tanyakan kepada diri masing – masing, jika ini yang harus digenggam di tangan untuk menggapai impian lainnya. Salah satu temanku pernah mengatakan “Aku ingin memberikan makan orang miskin yang ada di Indonesia setelah aku sukses nanti”, “Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku dengan mengajak mereka menunaikan ibadah Haji” dan masih banyak impian lainnya. Sudah jelas jika tujuan utama adalah menjadi ‘kaya’.

Sejujurnya tidak perlu menjadi kaya untuk mendapatkan semua itu, cukup dengan bahagia dan ikhlas. Kunci itu hanya kata sederhana namun maknanya luarbiasa. Luarbiasa sulit untuk di terapkan, dibayangkan, dilakukan, dan didapatkan. Alasan kebahagiaan bukan datang dari orang lain tapi dari diri sendiri. Keyakinan akan cinta Allah. Cinta Allah kepada hamba-Nya tidak akan terbatas apapun.

Memaknai hidup tidak perlu sesingkat dan sedangkal itu, banyak cara untuk menggapai mimpi. Jika terus berbagi dan membuat orang lain tersenyum itu kunci cinta Allah kepada hamba-Nya. Sedih jika ‘orang sukses’ itu tidak menyadari jika dirinya tidak bahagia. Mengapa tersenyum untuk sesuatu yang tidak membuat diri kita merasa damai.Berikan kebahagiaan itu kepada diri kita. Ikuti apa yang diri ini ingin lakukan. Hal sederhana seperti, menulis cerita konyol, atau sekadar bersenda gurau dengan teman, memberikan motivasi kepada adik adik di pedalaman dan membuat mereka tersenyum hal baik yang membuat hati kita damai. Hal itu akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan menjadi bonus dari kebahagiaan itu. Kuncinya adalah Succes is not key to happiness, but happiness is key to success.

Membuka mata untuk dunia yang Allah titipkan kepada kita, tidak memandang sebelah mata orang yang ada di sekeliling kita, merangkul semua orang yang membutuhkan kita, berikan senyuman untuk setiap orang yang mendapatkan impiannya, berbahagialah dengan cara yang sederhana J Best wish for us J  By Murni (mahasiswi biasa yang belum menjadi siapa – siapa) ^^

“Jangan membuat diri kita merasa terbebani dengan ambisi kita” –Diah Rustania (2015)-

2 comments:

  1. Iki diah sng comment... keren mur... tenan... ora geroh

    ReplyDelete
  2. Iki diah sng comment... keren mur... tenan... ora geroh

    ReplyDelete