About Me

Thursday, July 11, 2013

Cinta… Memang ini rasanya



Pagi ini aku harus berangkat ke kota kelahiranku, masih lekat dalam fikiranku tentang masalah yang takkunjung usai. Bukan untuk berlari namun, hanya ingin mencari kebebasan semata, walau sementara. “Bu, Jihan berangkat dulu ya…”, “Kamu hati – hati ya di jalan” aku melihat raut wajah yang lelah dan kini mulai menua, walau tak tega tapi aku harus meninggalkan Jakarta sejenak. Setelah semua siap aku langsung masuk ke dalam mobil. Semua begitu rumit dan berbelit, bahkan aku fikir bukan aku orang yang tepat untuk mendapatkan ujian ini dari Tuhan. Siapa yang harus aku salahkan? Kepada siapa aku harus mengadu? Tidak ada jawaban, dan hanya satu jalan. Menghilang sejenak. Entah sampai kapan.

* Beberapa bulan yang lalu*

Hari ini aku harus menyelesaikan perkara pembunuhan keluarga yang kaya raya itu. Walaupun aku tahu bahwa mereka memang bersalah, tapi inilah tugasku sebagai seorang pengacara yang professional. Namaku Jihan Khairunisa, seorang pengacara yang membenci pekerjaan sendiri,  aku selalu memakai topeng dalam menjalankan pekerjaan ini. Dan itu semua hanya untuk membahagiakan kedua orang tuaku. Sudah hampir 2 tahun setelah aku lulus di salahsatu fakultas hukum, aku terjun ke dunia hukum yang sebenarnya. Memang berat rasanya harus membela seseorang yang belum tentu benar. Tapi ini adalah tuntutan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dalam kasus ini lagi – lagi aku dihadapkan pada kasus yang rumit. Seseorang membunuh hanya karena menyembunyikan kasus korupsi. Dan aku harus membantu orang – orang picik seperti mereka? Hanya satu doaku ‘Maafkan Aku Tuhan’.
“Bagaimana Bu Jihan? Kami sudah membayar Ibu mahal, untuk membantu kami agar memenangkan perkara ini” pihak keluarga itu kembali mencuap saat aku sedang pusing mencari bukti – bukti. “Iya pak, di sidang besok kita pasti menang” dengan senyum aku menjelaskan. “ Baiklah, kami percaya pada Ibu, sudah banyak perkara yang jauh lebih sulit bukan? Jadi jangan kecewakan kami Bu” dan orang itu tertawa sinis di hadapanku, ingin rasanya aku berteriak di wajahnya dan berkata ‘Aku gak sudi’ tapi apa daya? Ini takdir yang harus aku jalani. Selama hari itu aku sibuk mencari bukti yang menguatkan orang jahat itu. Akhirnya hari persidangan tiba, sidangpun dimulai. Persidangan berjalan lancar dan hakim menyetujui akan pengurangan hukuman yang di jatuhkan kepada tersangka, dan akulah yang merasa paling berdosa. “Terimakasih Bu Jihan, atas kerjasamanya” ucap orang itu setelah sidang usai.
Sekitar 3 kasus yang aku selesaikan di bulan ini, dan di akhir pekan ini ada klien yang menghubungiku kali ini dalam kasus yang sama aku membela pihak yang bersalah. Kasusnya sangat sederhana, terjadinya tindakan tidak manusiawi di suatu Perusahaan, sedangkan yang menjadi korban adalah seorang Ibu paruh baya yang lusuh. Dan keesokan harinya aku harus melewati sidang pertama. Saat sidang belum dimulai, aku bertemu seseorang yang aku rasa tidak asing. Mungkinkah dia? Dan persidangan dimulai saat hakim ketua datang. Betapa terkejutnya aku saat melihat siapa pengacara dari pihak korban. Roni. Roni Dewanto.

“Ya, bagaimana apakah terdakwa memiliki bukti yang kuat jika tidak pernah ada kekerasan saat korban bekerja di Perusahaan anda?” Tanya hakim kepadaku
“ Hakim yang terhormat, bahwasanya sudah kami telaah lebih jauh, korban hanya menyimpan dendam pribadi kepada terdakwa, dan luka – luka itu hanya buatan korban” Ucapku
“Apa benar begitu, Bu Yatmi?” Tanya hakim kepada korban
“Tidak benar pak hakim” jawab Ibu itu dengan gugup
“Maaf Hakim yang terhormat saya potong, darimana terdakwa tahu bahwa Bu Yatmi memiliki dendam tersendiri? Dan kami juga telah memiliki bukti pribadi yang menguatkan adanya kekerasan yang diterima Bu Yatmi selama di Perusahaan”
“Ya, Silahkan anda perlihatkan bukti tersebut” ucap hakim ketua
“Ini Hakim yang terhormat, dari bukti foto tersebut dapat dilihat bahwa pihak perusahaan tidak memperlakukan karyawannya dengan manusiawi.” Jelas Roni dan itu membuatku tersenyum tipis.
“ Bagaimana saudara terdakwa? Apa ada pembelaan dengan adanya bukti ini?” Tanya hakim ketua kepadaku.
“Tidak ya Hakim” jawabku lemas namun aku merasa lega.
“Baiklah dengan adanya bukti – bukti dan pengakuan, telah ditetapkan bahwa terdakwa melanggar 3 pasal berlapis, dan harus menerima hukuman penjara selama 5 tahun dan denda Rp.123.000.000” dan hakim ketok palu.
Setelah sidang usai aku meminta maaf kepada pihak Terdakwa karena gagal menyelesaikan perkara yang tadi dihadapi. Mereka marah dan mencaci, tapi aku merasa lebih bahagia seperti ini.
“Hebat kamu” ucap seseorang saat aku menikmati minuman kopi di warung dekat pengadilan. “Hai, Ron apa kabar?” tanyaku sedikit gugup. “Baik, kamu gimana?”, “ Ya beginilah tidak terlalu bahagia” jawabku sambil meneguk kopi. “ Kenapa? Karena pekerjaanmu ini?” aku tidak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk, dengan itu akupun yakin kalau Roni akan mengerti. “Sudahlah, lakukan apa yang ingin kamu lakukan Jihan, dan aku….” Tiba – tiba ucapan Roni terhenti “ Kenapa Ron?” , “Aku selalu mendukung kamu Jih” aku hanya terdiam beribu bahasa.
Ya Roni adalah temanku saat masih berada di bangku kuliah. Aku dan Roni bersahabat cukup dekat. Dan semua itu sirna setelah adanya rasa Cinta diantara aku dan Roni, cukup sederhana tapi maknanya sungguh luarbiasa. Aku menyembunyikan rasa ini dengan rasa sakit yang teramat, bahkan aku rela melakukan banyak hal bodoh. Tanpa aku harus tahu alasan mengapa aku melakukannya. Sampai pada akhirnya saat hujan itu semua terungkap. Saat itu di halte bus “Dingin ya Jih?” Tanya Roni dengan sedikit berteriak, karena memang saat itu hujan sangat lebat “Iya, Ron aku kedinginan” jawabku berusaha berteriak “Kamu pake jaket aku aja ya, nanti kamu sakit” Roni memakaikan jaket kulitnya ketubuhku yang memang sudah menggigil “ Makasih ya Ron” jawabku sambil tersenyum. Aku yakin bahwa Roni juga merasakan dingin yang luarbiasa karena hampir 4 jam hujan belum reda, dan belum ada bus yang lewat. “Kamu pake jaket kamu aja ya, aku udah ga apa – apa kok” kataku sambil melepaskan jaket, tapi tanganku ditahan Roni “Udah kamu aja yang pake aku ga apa – apa” aku terdiam. Aku meminta Roni untuk duduk di sampingku dan aku memeluknya. “Dengan begini kamu ga akan kedinginan, aku juga ga kedinginan” kataku lirih. Namun, tak lama Roni menangis. “Kamu kenapa Ron, kamu sakit ya?” tanyaku khawatir. “ Aku… Aku mencintaimu maafkan aku” ucap Roni dengan  
Sudah hampir 2 tahun sejak wisuda aku tidak perbah bertemu dangan Roni dan ternyata sekarang, detik ini, ada Roni dihadapanku. Apakah masih dengan rasa yang sama?
Sejak bertemu dengan Roni kemarin di persidangan, perasaanku menjadi campur aduk, ada rasa rindu, malu, dan mungkin cinta. Tapi apa yang harus aku perbuat sekarang, aku hanya berharap dan terus berharap. Tuhan aku ingin melepaskan pekerjaan ini, aku ingin menjadi manusia yang lebih baik, bantu aku Tuhan. Aku lelah berada di posisi seperti ini akupun muak dengan semua kebohonganku dan semua rasa bersalahku yang tertumpuk bagaikan sampah yang siap dibakar. Apakah Roni bisa membantuku keluar dari belenggu kebimbangan ini? Apakah aku bisa bersama Roni?
Ternyata pertemuanku di persidangan dengan Roni bukan untuk yang terakhir, 2 bulan setelahnya ada kasus baru yang harus aku selesaikan kembali. Yaps, Roni berada pada pihak korban dan aku masih sama selalu berada pada pihak yang mau membayarku dengan harga yang mahal. Perkara kali ini tentang pelecehan seksual yang dilakukan seorang lelaki dewasa berusia 45 tahun dengan wanita miskin berusia 25 Tahun. Menurut keterangan yang aku ambil dari klien, sang wanita mengadukannya kepengadilan karena dia tidak mau menepati janjinya untuk menikahi wanita itu dan mengurus buah hati hasil dari perbuatan bejat yang dia lakukan. Tidak ada bukti yang dapat menguatkan korban, karena tidak pernah ada tindakan kekerasan yang dilakukan pria ini. Sebenarnya ini memudahkanku untuk menyelesaikannya, tapi ada rasa yang mengganjal. “Bu Jihan, saya minta ibu dengan segera menyelesaikan kasus ini, karena saya masih banyak urusan yang jauh lebih penting daripada harus datang ke persidangan untuk masalah yang sangat sepele seperi ini, bagi saya waktu adalah uang bu, jadi percepatlah prosesnya” aku hanya memandangnya dan berfikir ‘apakah pria ini tidak memiliki hati nurani?’ sebelum sidang awal dimulai aku bertemu dengan Roni.
“Jihan, kamu yang membantu Pak Gery dalam kasus esok hari?” Tanya Roni
“Iya, kamu juga kan yang membantu Bu Yasmin?” tanyaku kembali
“Iya, Jihan, sampai kapan kamu akan melakukan pekerjaan ini?”
“Aku tidak tahu, sebenarnya aku bingung harus berbuat apa besok, aku juga perempuan Ron, aku faham betul apa yang dirasakan Bu Yasmin” jelasku padanya
“Lalu, kenapa kamu masih ragu? Aku yakin dan percaya ada jalan lain Jihan, untuk mencapai kesuksesan dengan cara yang lebih baik”
“Rasa ini masih sama Ron, keraguan yang membuat aku semakin tenggelam. Orang tuaku” jelasku lirih
“Mereka pasti mengerti Jihan, jalan hidup yang kamu pilih itu hanya kamu yang bisa menentukannya, apa yang akan kamu lakukan jika posisi korban –korban yang kamu pojokan adalah orang tua kamu Jihan?”
Aku bingung harus berkata apa, yang jelas aku masih butuh waktu untuk menyelesaikan semuanya.
Dan hari persidangan awal tiba, aku sudah memiliki berbagai sanggahan yang mungkin akan membantu selama di persidangan. “ Kepada pengacara korban, silahkan mengajukan segala hal yang ingin disampaikan” ucap hakim ketua
“ Iya, terimakasih Hakim ketua yang terhormat. Menurut pengakuan yang diutarakan korban kepada saya, dan berbagai bukti yang telah saya dapatkan saudara terdakwa telah melakukan tindakan pelecehan seksual kepada korban, dan mengancam korban jika melaporkan kepada yang berwajib, keluarga korban akan di terror oleh terdakwa”
“Maaf pak Hakim, saya ingin mengklarifikasi, menurut keterangan terdakwa bahwasanya korban tidak pernah dilecehkan, melainkan mereka sama – sama saling mencintai. Dan korban juga meminta sebagian dari harta yang dimiliki oleh terdakwa untuk anaknya, yang menurut keterangan korban itu adalah buah hati dari korban dan terdakwa. Namun. Terdakwa menolak karena tidak ada bukti yang menyatakan bahwa anak itu adalah buah hati mereka”
“Ya bagaimana ada tambahan dari pihak korban?”
“Ada, pak Hakim, surat pernyataan yang dibuat oleh terdakwa yang berisi pernyataan pembagian harta kepada Bu Yasmin. Didalam surat ini terdakwa menyatakan bahwa dia bersedia mengurus segala keperluan Bu Yasmin dan anaknya”
“Bagaimana saudara Pengacara dari pihak tersangka?”
“Maaf pak Hakim ketua, tapi tetap saja tidak ada bukti bahwa anak yang dikatakan tadi adalah anak saudara Gery, dijelaskan dalam surat tersebut bahwa Pak Gery akan menanggung segala kebutuhan korban jika memiliki anak dari saudara Gery, jika tidak maka itu akan hilang”
“Apa ada bukti yang menyatakan bahwa anak yang dimaksud adalah darah daging terdakwa?”
“ Belum ada, pak Hakim, mungkin akan kami bawa pada sidang berikutnya”
Setelah terus berdebat akhirnya sidang ditunda sampai 1 minggu kedepan. Dan itu membuatku semakin pusing, mungkin karena aku berhadapan dengan Roni, atau aku merasakan penderitaan yang dirasakan Bu Yasmin, atau rasa benciku terhadap pak Gery yang merendahkan perempuan? Semua itu berlawanan dengan yang harus aku lakukan. Sekarang dimana aku harus mencari bukti – bukti yang menguatkan pak Gery pada sidang berikutnya.
“Sudahlah Jihan, apalagi yang ingin kamu lakukan?” ucap Roni di selasar ruang sidang.
“Tidak ada” dengan raut wajah yang menurutku cukup membuktikan bahwa aku sedang kesal.
“Aku kenal kamu Jihan, lakukan apapun yang ingin kamu lakukan, tapi aku yakin kamu tidak akan mampu menahan lagi” Jelas Roni sambil menunjuk kearah hatiku.
“Aku tahu, dan aku akan melakukannya” aku langsung pergi meninggalkan Roni, yang aku lihat masih dengan wajah bingung.

Malam demi malam berlalu, aku selalu memikirkan perkara yang harus aku hadapi nanti. Membela manusia yang tidak berhati. Aku memutuskan untuk mencari jalan terbaik. Aku mengundurkan diri.
Keesokan harinya dikantor di ruanganku “Pak Gery, saya minta maaf sebesar – besarnya karena saya tidak dapat membantu pak Gery dalam menyelesaikan perkara minggu besok, silahkan bapak mencari pengacara lain, karena saya tidak mungkin terus membela bapak yang jelas – jelas bersalah”
“Kenapa? Apa kurang bayaran yang saya berikan kepada anda?” ucap pak Gery dengan nada yang tidak menyenangkan.
“Bukan pak, ada alasan lain, kalau bapak mau bayaran saya akan saya kembalikan” ucapku ketus
“Iya, saya juga harus mendapatkan ganti rugi dari pengunduran diri yang anda lakukan, sesuai dengan kontrak yang telah kita setujui di awal”
“ Iya pak saya setuju”
“Bangsat!!!! pengacara macam apa anda ini” lalu kemudian Pak Gery keluar ruangan dengan membanting pintu sangat keras.
Aku langsung lemas dan masih belum percaya dengan yang baru saja aku lakukan. Dan sekarang aku dan keluargaku harus siap hidup sederhana, karena kontrak dan ganti rugi yang harus aku tanggung kepada pak Gery dan itu jumlahnya tidak sedikit. Tapi aku merasakan kedamaian, dan aku juga mendengar kabar bahwa pak Gery kalah di persidangan dan masuk penjara sesuai dengan hukuman yang harus dia terima.
 Ting tong ting tong bel rumah berbunyi, dan aku langsung melihat siapa yang datang, ternyata Roni, tapi dia tidak sendiri. “Hai, masuk Ron” aku mempersilahkan Roni dan orang itu masuk kerumah. “Iya makasih ya Jih, oh iya Ibu kamu dimana?” Tanya Roni “Ibu aku lagi sakit, dia ada di kamar, oh iya kalian mau minum apa?”,”Ohh ga usah, ga usah kita Cuma sebentar kok Jih, Ibu kamu sakit apa Jih?”, “ Entahlah, mungkin dia masih terpukul dengan situasi yang sedang kami hadapi sekarang, oh iya Ron, ini siapa ya?” tanyaku penasaran “ oh iya aku lupa, ini Fanny tunangan aku, jadi aku sama Fanny kesini mau memberikan undangan pernikahan kami minggu depan”, Damn. Apa? Menikah, seketika aku tersentak. “Ka.. kalian mau menikah minggu depan?” , “Iya aku sama Roni, menikah InsyaAllah hari Jum’at minggu depan, aku minta doanya ya” wanita itu tersenyum sambil berhadapan dengan Roni. “ Oh iya, selamat ya semoga kalian bahagia, tapi aku minta maaf soalnya kemungkinan aku ga bisa datang, soalnya ada acara di luar kota dan terlanjur buat janji” , “Yahh, Jihan… ya sudah tidak apa – apa, yakan sayang?” Roni hanya mengangguk dan tersenyum. “ Ya sudah aku sama Fanny mau menyebarkan undangan lagi, makasih ya Jihan, salam juga buat Ibu kamu” , “Oh iya iya, nanti aku bilang ke Ibu” . Setelah pintu rumah terkunci aku lemas dan masih belum percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Roni akan menikah. Sekarang air mata ini tidak dapat aku bendung lagi. Aku memutuskan untuk pergi besok.
Pagi ini aku harus berangkat ke kota kelahiranku, masih lekat dalam fikiranku tentang masalah yang takkunjung usai. Bukan untuk berlari namun, hanya ingin mencari kebebasan semata, walau sementara. “Bu, Jihan berangkat dulu ya…”, “Kamu hati – hati ya dijalan” aku melihat raut wajah yang lelah dan kini mulai menua, walau tak tega tapi aku harus meninggalkan Jakarta sejenak. Setelah semua siap aku langsung masuk kedalam mobil. Semua begitu rumit dan berbelit, bahkan aku fikir bukan aku orang yang tepat untuk mendapatkan ujian ini dari Tuhan. Siapa yang harus aku salahkan? Kepada siapa aku harus mengadu? Tidak ada jawaban, dan hanya satu jalan. Menghilang sejenak. Entah sampai kapan.
Seperti dugaanku di sini ini aku merasa lebih damai, dan tentram. Sesampainya di Bali tempat kelahiranku, aku langsung ke rumah nenekku. “Nenek…. Aku kangen banget sama nenek, aku mau sama nenek disini, aku capek nek” aku langsung memeluk nenek dan menangis “ Iya, nenek juga kangen banget sama Jihan, tapi Jihan kenapa? Ada masalah ya?” aku hanya mengagguk “ Ya sudah lebih baik kamu beberes dulu, terus istirahat baru nanti kamu cerita ya sama Nenek” “ Oke deh nek, aku mandi dulu yaa” aku langsung menuju ke kamarku yang sedari aku kecil selalu ada di lantai bawah dekat kamar mandi. Di kamar ini aku dapat melihat pemandangan yang indah, semuanya terasa tenang dan damai, seakan – akan aku bisa melupakan semua masalah yang aku hadapi. Setelah aku selesai istirahat dan makan aku menepati janji untuk bercerita kepada nenek, padahal aku juga yakin kalau Ibu sudah cerita. “Nek, lagi apa?”, “Ini lagi buat bros untuk kamu cantik”, “ Iya? Makasih ya nek” kataku sambil memeluk nenek “ Iya sama – sama sayang, oh iya tadi kamu mau cerita sama nenek, ada apa?” , “ Iya nek, jadi aku ke Bali ini mau menenangkan hati soalnya aku lagi muak aja di Jakarta, banyak masalah nek” , “Tapi kamu gak boleh lari dari masalah ya sayang, semuanya pasti ada jalan keluarnya, kamu harus percaya itu, semakin besar masalah yang kamu hadapi, kamu akan jadi manusia yang semakin berkualitas nantinya, tapi untuk kali ini kamu boleh banget tinggal di Bali, soalnya nenek kesepian disini”, “ Iya nek, aku yakin kok akan semua itu, yahh hitung aja aku liburan di Bali hehehehe, oh iya nek aku mau jalan – jalan nanti sore boleh?” “Boleh dong, pokoknya cucu nenek disini gak boleh sedih – sedihan harus bahagia terus yaa, nanti nenek suruh temenin si Hildan”, “Hildan? Dia siapa nek dia itu penjaga villa punya nenek, teman kecil kamu dulu” , “Oh iya iya, aku lupa hehehe, ya udah aku pergi dulu ya nek” “Iya, ya udah sana hati – hati ya”
Disini aku sendiri merasa sepi, berusaha melupakan dan bertahan, semua begitu tenang walau tidak dapat dipungkiri lagi kalau hati ini masih sakit. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Aku teriak sekencang kencangnya di pinggir pantai, “Itu kurang keras, lebih keras lagi”, “ Kamu siapa?”, “ Aku Hildan, kamu Jihan kan?”, “ Iya, hai apa kabar?”, “ Baik, memang kamu masih ingat aku?” , “Sebenernya sih aku udah lupa hehehe”, “Kalau akusih gak akan lupa sama kamu” , “ Maksud kamu?” tanyaku bingung “Sudahlah, hmm kata nenek kamu lagi sedih ya? Pasti patah hati ya?” , “Hahaha kamu itu sok tau banget ya, tapi bener sih” kataku sedikit keki “Tuh kan bener, oh iya gimana kalau kita ngobrolnya di tempat yang asik, kamu mau?”, “ Boleh – boleh ayo”
Hildan, siapa dia? Entahlah mungkin malaikat yang Tuhan kirimkan untuk menghiburku saat ini. “Nahh, gimana tempatnya asik kan?” waw… Hildan membawaku kesebuah restoran dibawah laut, entahlah tapi ini sungguh indah. “ Ini keren banget, waw.. keren banget asli” kataku terperangah “Hahaha iya dong, nah sekarang kalau kamu gak keberatan kamu bisa cerita sama aku”. “Okey… aku akan cerita, jadi aku ini pengacara sebelumnya, hmm sekarang masih tapi cuti dulu hehehe, aku merasa kalau apa yang aku kerjakan selama ini itu jahat, selalu membela orang – orang yang membayar bukan yang benar, dan sampai akhirnya orang yang aku sayang, datang lagi dalam kehidupan aku, dia selalu berusaha membuat aku sadar bahwa apa yang aku lakuin ini itu salah, dan akhirnya ada suatu permasalahan besar,dimana kalau aku meninggalkannya semua akan lenyap, dan aku meninggalkannya, dan aku tidak menyesal akan hal itu yang membuat aku sakit adalah, orang yang selama ini aku sayang aku tunggu, dia menikah minggu ini, dan dia itu orang yang membuat aku sadar bahwa cinta itu bukan hal yang pasti, entahlah masih bisa atau tidak aku merasakan cinta lagi, hati ini seperti beku.”, “ Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya, kamu pintar sudah mengambil keputusan yang benar, dan kamu juga pantas merasa sedih, yang salah hanya satu” , “Apa?” “Kamu tidak boleh lelah dalam mencintai, dan kamu masih punya cinta, cobalah kamu merasakan dengan lebih sabar, tenang, dan dalami rasa itu” , “Aku masih ga faham sama apa yang kamu bilang tadi” , “nanti kamu juga tahu maksud aku”.
 Dan itu bukan kali terakhir aku jalan bersama Hildan, dia selalu mengajakku ke tempat – tempat yang menyenangkan, dia selalu membuat aku tertawa dan tersenyum, tingkahlakunya sungguh membuat aku nyaman saat bersamanya, dia memang orang yang sederhana, tapi dia memperlakukan aku dengan sangat luar biasa. Setiap hari dia selalu memberikanku sepucuk surat dan aku dilarang membacanya, entah apa isinya aku juga penasaran tapi dia tetap teguh melarangku untuk membukannya, sampai pada waktunya aku diajak kerumahnya. Tapi belum sempat aku kerumah Hildan, ada kabar dari Jakarta yang mengabarkan kalau Ibu sakit, tanpa berfikir panjang aku langsung ke Jakarta, dan Hildan menemaniku. Sesampainya di Jakarta Ibu sudah berada di rumah sakit, kondisinya memang sangat lemah, namun itu karena kelelahan. Saat dirumah sakit aku bertemu dengan Roni, “Hai Jih, gimana keadaan Ibu kamu?”,“Makasih ya Ron, kamu udah bawa ibu aku ke rumah sakit” , “ Iya sama – sama, itu udah kewajiban kita kan sesama manusia harus saling tolong menolong, oh iya aku dengar kamu pindah ke Bali ya?” , “Iya, rencana aku mau tinggal di Bali tapi Ibu sakit jadi aku fikir – fikir lagi deh, oh iya gimana pernikahan kamu, lancar kan?”, “ Batal jih, pernikahan aku batal” , “Kenapa Ron? Kok bisa?” tanyaku terkejut “ Iya karena aku memang tidak mencintai Fanny, kamu tahu aku mencintai siapa bukan?” tidak lama Hildan datang membawa obat, “Hai, ini Roni Jih?” “Oh iya, Ron ini Hildan temen masa kecil aku di Bali” dan mereka berjabat tangan, “ Gimana udah ditebus obatnya?” “Iya ini udah, ya udah aku ke kamar dulu ya mau kasih Ibu Obat” ucap Hildan, yang aku rasa dia merasa tidak nyaman berada diantara aku dan Roni “Ron, aku bantuin Hildan dulu ya”, “Tapi Jih, gimana sama kita?” , “Maaf Ron, aku gak bisa jawab sekarang” dan aku pergi meninggalkan Roni di selasar rumah sakit.
Keesokan harinya Hildan meninggalkan surat di meja kamarku, ternyata dia sudah kembali ke Bali, entah mengapa aku merasa sedih dengan kepergian Hildan. Siang harinya aku bertemu dengan Roni, aku rasa ini saat yang tepat dan aku yakin dengan apa yang aku rasa “ Jihan, apa kamu sudah punya jawaban dari pernyataan aku kemarin?” ucap Roni sambil mengenggam tanganku “Maaf Ron, tapi semenjak kamu pergi ninggalin aku kemarin, hati ini sudah ada yang mengisi, maaf Ron, aku gak bermaksud sama sekali, tapi perasaan aku….” , “Iya aku tahu, aku melihat tatapan kamu berbeda saat menatap Hildan, dan itu tatapan yang kamu berikan untukku dulu” , “Maafin aku ya Ron”
Hari itu aku juga memutuskan untuk membawa Ibu ke Bali, aku ingin memulai kehidupan baruku di Bali, dan melanjutkan karierku di Bali, kali ini Ibu setuju dengan keinginanku itu. Dan sesampainya di Bali seperti biasa Nenek menyambut aku dan Ibuku dengan luar biasa, pelukan hangat yang tiada tandingannya, sungguh aku sangat merindukan moment seperti ini, tapi aku tidak melihat Hildan. “Nek, Hildan dimana ya?” tanyaku “Cieee kok yang di cari Hildan sih?” , “Apaan sih nenek nih” , “Bercanda sayang, itu Hildan ada di kamar atas susul aja” aku langsung lari kelantai atas dan yaps Hildan sedang melamun, “Dorrr”, “Ya ampun Jihan, kamu buat aku kaget aja, kapan kamu sampai di Bali, Ibu kamu bukannya masih harus dijagain?” , “Ihh kamu itu bawel banget yah, jadi aku sama Ibu udah mutusin untuk tinggal di Bali, pasti kamu seneng yakan? Hayoo ngaku” Ledekku dan Hildan langsung mencubit pipiku pelan.  
“Jihan, aku mau memperlihatkan sesuatu sama kamu” , “ Apa itu?” Hildan menarik tanganku dan membawaku kekamarnya, dan ternyata…. Diseluruh sudut kamarnya berisi fotoku, dan kertas – kertas yang bertuliskan namaku. “Ini.. ini apa Hildan?” “Sama seperti kamu Jihan, sama seperti perasaan yang kamu miliki untuk Roni, itu semua sama dengan apa yang aku rasakan ke kamu, sejak dulu aku sudah menyukai kamu, aku sangat sedih saat Ibu kamu memindahkan kamu ke Jakarta, aku sepi disini, aku terus memikirkan kamu setiap hari, dan sampai saat ini, detik ini, rasa yang aku miliki masih sama. Entah apa aku pantas mencintai kamu atau tidak, mungkin kamu risih karena….” Sebelum Hildan melanjutkan ucapannya aku menghentikannya dengan jari telunjukku “ Sudahlah, mungkin aku juga tidak faham tentang cinta, tapi yang jelas aku merasa sangat nyaman jika berada di dekat kamu Hildan, apa itu cinta?” Hildan hanya terdiam “ Aku takut Hildan, untuk mulai memiliki rasa itu lagi, takut sakit, dan menyakiti, aku takut kamu sakit Hildan” Hildan masih terdiam “ Dimana kita harus mencari kepastian Hildan? Dimana? Aku ingin tahu apa aku pantas menerima cinta yang kamu miliki?”, “Aku tahu Jihan, kamu masih terbayang akan Roni, aku mengeri”, “ Bukan itu Hildan, aku takut kamu merasa sakit”, “ Baiklah aku mengerti”, “Jadi, keputusannya?” , “Maksud kamu?”, “ Apa kamu siap mencintai aku seutuhnya?” , Hildan tersenyum dan memelukku dengan erat “ Iya aku siap, aku siap Jihan” , “Hahahaha kamu lucu ya kalau lagi serius kaya tadi”, “kamu tuh yang buat aku jantungan” , “ Iya deh aku lagi aku lagi hahahaha”, “Jihan, I Love You” , “Hmm Hildan I love you too”
Cinta, rasa yang simple tetapi maknanya sungguh luarbiasa, kebahagiaan yang tidak perlu dicari tetapi dapat kita rasakan, dimana tidak ada alasan untuk menjelaskan rasa ini, ada rasa sakit, kecewa, sedih, tangisan, tawa, semua itu dapat kita rasakan dalam 1 kata. Cinta. Apakah kita telah memberikan Cinta kepada orang yang tepat, karena Cinta itu adalah rasa suci yang sempurna.
Semenjak Jihan memutuskan untuk tinggal di Bali, Roni meneruskan mimpinya dan keluarganya untuk terus membantu orang - orang yang kesulitan dalam bidang hukum. Dan Roni masih belum mampu untuk menghilangkan secara keseluruhan, tentang perasaanya kepada Jihan, namun Roni terus berusaha bangkit. Dan  dengan berjalannya waktu akhirnya dia menikah dengan salah satu klien yang dia bantu. 
"Pagi selalu sempurna untuk sebuah awal yang terjaga. Harapan itu, dan segala apapun tentangmu. Dulu, ada satu keajaiban yang membangunkanku dari ruang hampa, dan kamu lah orangnya. Kini, aku masih percaya, akans ada keajaiban kedua. Siapa lagi kalau bukan kamu muaranya.
Bukan cinta yang memisahkan , tapi kita yang membuatnya terjadi.
Bukan cinta yang melukai, kita yang membuatnya terjadi sedemikian rupa.
Dan, semoga kita tak pernah berpikir untuk melakukannya". Itulah isi surat yang Hildan berikan kepada Jihan.
Semuanya berakhir dengan bahagia, mereka membangun keluarga kecil yang sempurna. Dengan adanya Cinta yang mereka miliki, semuanya begitu mudah mereka jalani. Cinta... Memang ini rasanya.


~ The end ~

No comments:

Post a Comment