Apa ini? Apakah ini hanya sebuah lelucon belaka? Mungkinkah?
Tidak. Tidak untuk kali ini. Saat aku memandangmu dari kejauhan dan aku
merasakan getaran itu, sungguh sangat terasa dan menyiksa. Dan itu selalu
terjadi. Aku ingin mengungkapkan yang sebenarnya tapi, banyak hal yang
menghalangi. Dan aku, disini, hanya menangis. Akupun yakin kalau kau tak tahu
sedikitpun tentang rasa suci ini. Bodoh rasanya menjatuhkan hati dengan
kerasnya kepadamu. Mencintaimu bagaikan berusaha melihat bintang di malam hari
walaupun angin menusuk tajam tulang rusukku. Tapi aku rela. Walaupun aku hanya
bermimpi dapat bersamamu, itu cukup membuatku bahagia, walaupun sesaat, aku tak
munafik kalau aku….. ingin bahagia selamanya bersamamu. Iya. Kita berdua.
Ketika waktu itu ternyata akan tiba, ingin rasanya aku berada
didalam pelukanmu dan membisikan kata indah “Aku bahagia sungguh, I Love You” dan
kau akan memandangku, membelai lembut rambutku, serta memberikanku sebuah senyuman
hangat dan detik itu kau berikan sejuta kenyamanan untukku. Ruas jari ini tak akan
ada lagi, karena terpaut jarimu yang mampu menggenggamku, erat. Hai… kau yang
aku cintai, aku merindumu, ingin aku memelukmu, memilikimu, dan mencintaimu
sepenuhnya.
Dan Tuhan, aku ingin memilikinya. Apakah aku salah? Iya.
Seharusnya bagaimana aku berharap? Seharusnya aku berharap bahwa aku adalah
tulang rusuknya. Karena selama apapun sepasang kekasih bersama jika bukan
tulang rusuk itu, akan melenyapkan segalanya. Jadi, Tuhan aku ingin bertanya….
Apakah DIA tulang rusukku? Jika iya, aku ingin bersamanya dan tak ingin lepas
darinya. Jika bukan, aku pun tak ingin menjauh darinya, dan Jika DIA benar -
benar bukan tulang rusukku Tuhan lindungi hati ini, karena hingga saat ini,
detik ini, hati ini masih mencintainya, lindungi hati ini dari rasa sakit
Tuhan. Dan terimakasih karena Engkau telah memberikan aku rasa yang indah ini,
walaupun aku tak tahu apa makna yang sesungguhnya. Dan alasan aku mencintainya.Apa yang
hati ini rasa? Aku berusaha mendustainya dan dengan kasar memaksa melupakannya.
Jahat. Iya aku memang jahat jika membunuh rasa ini. Tapi jika bertahan aku takut
akan merasakan rasa sakit yang lebih sakit dari sebelumnya.
Darimana aku harus
mencari keyakinan bahwa aku memang pantas menyimpan perasaan CINTA untukmu? Ingin
rasanya hati ini berteriak dihadapanmu dan mengatakan bahwa “Aku Mencintaimu”.
Jika rasa ini salah tapi hati ini memang hanya untukmu, walaupun aku tahu kalau
kau memberikan milikmu untuk yang lain. Dan aku? Aku hanya menangis. Dan
berharap. Apakah kau masih menganggap aku berdusta? Atau kau ingin membunuh
hati ini dengan memaksakan mencintai orang lain? JAHAT. Kau membalas 1 rasa
suci ini dengan 2 kejahatan. Seperti yang aku ucap tadi, kau jahat memaksa hati
ini mencintai yang lain, yang kedua kau jahat karena….. Telah membuat hati ini
terjatuh dan masuk, dalam, jauh, tersungkur di lubuk hatimu. Apakah kau akan
melakukan kejahatan yang ke 3? Dengan meninggalkanku disini…. Sendiri.
Sering
kau acuhkan aku, tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya terdiam dan terus
mencinta
Sering
kau abaikan aku, tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya bersedih dan terus
mencinta
Sering
kau sakiti aku, tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya menangis dan terus
mencinta
Sering
kau bohongi aku, tapi apa yang aku lakukan? Aku hanya bersabar dan terus
mencinta
Sering
kau berusaha menjauh, tapi apa yang aku lakukan? Aku mengejarmu dan terus mencinta
Kau
akan mengerti….
No comments:
Post a Comment