Kamu…
aku berhenti sejenak dihadapanmu saat kedua mata kita saling beradu. Dan aku
merasakan getar hatiku dan degub jantungku saat itu, dan aku tersadar bahwa kau
istimewa. Semakin aku mengenalmu aku semakin percaya bahwa kau memang yang
terbaik, dan aku benar – benar ingin memilikimu. Berlalunya hari semakin sering
kita bertemu, dan akhirnya kita berdua bersatu. Kau buat hari – hariku semakin
indah dan memusnahkan kesendirianku. Kita tertawa bersama dan selalu kau
perhatikan aku.
Aku
merasa sangat beruntung memilikimu, tak ingin aku melepasmu sampai kapanpun.
Hari – hariku selalu kau buat istimewa dan kau menjadi malaikat pelindungku.
Sungguh aku sangat mencintaimu, dengan seluruh ragaku aku ucapkan kalimat itu.
Dan hanya untukmu… dan aku tak pernah berharap untuk bangun jika ini adalah
mimpi. Tuhan jaga dia dan jangan buat dia menangis apalagi sakit. I LOVE YOU….
Hari
itu aku menunggumu, rasa rindu yang ada dihatiku sungguh besar dan memaksaku
untuk bertemu dengan mu saat ini juga. Namun, apa yang sebenarnya terjadi?
Mengapa kau melupakan perjanjian kita? Aku menjoba berfikir jernih dengan
mencoba memahami kesibukkanmu. Dan akhirnya aku pulang dengan kekecewaan. Dan
aku berharap ini adalah awal dan akhir kekecewaanku kepadamu sayang.
Dan….
Aku salah besar, kamu berubah 180 ○ setiap hari kamu marah, dan aku
selalu menangis kesepian. Kebahagiaan itu telah sirna, ada apa denganmu? Aku
coba bertanya padamu dengan baik – baik, Tapi KENAPA….. kenapa kamu membentakku
tanpa memperdulikan bagaimana rasa sakit yang kau ukir di hatiku? Kau bilang
aku perempuan yang lemah, manja, dan semua kata – kata yang tak pernah aku
fikirkan sebelumnya. Kamu benar – benar membuat aku kecewa dengan sikapmu ini.
Aku benci, sangat membencimu!!! Dengan sengaja kamu bercanda dengan wanita lain
dihadapanku, sementara saat bersamaku kau hanya bisa marah, marah, marah, dan
marah. Bahkan dihadapanmu aku sudah tak mempunnyai harga diri sebagai seorang
kekasih.
Tidak
ada perhatian, yang ada selalu hinaan yang kau berikan kepadaku saat aku sakit.
Pada akhirnya kesabaranku sampai pada puncaknya. Akupun berusaha untuk tidak
memperdulikanmu, walaupun di dalam hatiku sungguh aku sangat mencintaimu. Tapi
hatiku sudah lelah menerima perlakuanmu. Dan sampai pada akhirnya aku
memutuskan untuk pergi dari kehidupanmu selamannya. Semoga kamu bisa menemukan
kebahagiaan.
~Sun of the world~

No comments:
Post a Comment